Yang Aku Kecup

 

Yang Aku Kecup

Oleh Alfin & Bilal

 

Aku rindu hujan, yang menahan kita berdua untuk pulang.

Kala itu hujan mendukungku untuk bersama denganmu lebih lama. Aku rindu saat jaket milikmu dan jaket milikku saling bersentuhan. Saat itu kita sangat dekat. Hanya di batasi beberapa helai pakaianmu.

Sambil menggenggam erat jari-jariku, “Sepatuku lupa kuambil, tertinggal di kolong meja kelas,” kamu berkata dengan ekspresi panik, wajahmu merah padam. Saat itu juga baru kusadari kamu bertelanjang kaki. Aku tersenyum kepadamu, lalu berkata “Yaudah, nanti kuambilkan. Jangan biarkan kaki mungilmu ini menapaki kerasnya bebatuan.”

Aku mengelus punggung tanganmu

Aku ingat saat itu kau pernah mengatakan, “Jangan berubah, ya, tetap seperti kamu yang aku kenal.” Aku kembali menatap bola matamu lamat-lamat. Indah sekali matamu, bulu matamu bersatu padu seolah seperti pohon yang tertiup angina.

Hujan tak kunjung reda. Di teras ruko tempat kita berteduh, kamu dan aku asyik berbincang hal-hal aneh, “Kalo cuacanya begini, rasa-rasanya ingin buang air,” gurauku kepadamu. Namun tiba-tiba kau menarik lenganku. Kau membawaku ke tengah-tengah hujan. Kamu tertawa. Aku tertawa. Kamu bermandikan hujan. Aku bermandikan cintamu.

“Aku lagi ngebayangin mandi air keran, sedangkan kamu mandi air keras, hahaha,” ucapmu sambil tertawa renyah. Tadinya aku ingin bilang, biarkan aku bermandikan air keras asal lebih dulu terkena kasihmu, karena denganmu, aku kuat. Tapi tentu saja, kata-kata itu tak terucap. Aku tidak berani. Memang aku pengecut, karena aku sedang sibuk. Aku sedang sibuk mencintaimu.

Aku ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Aku tipe orang yang cemburuan. Aku tidak rela rintik hujan menyentuh tubuh dan kulitmu.

Sesampainya aku di rumah—tentu saja kau juga di rumah, aku memikirkanmu. Aku kesal. Aku gusar. Karena kamu aku lupa untuk makan, karena kamu aku mandi jadi lama, aku lupa tidur, karena kamu. Tapi sekaligus aku senang, karena aku hanya memikirkanmu.

 

***

 

Aku membasahi batu nisan milikmu dengan air mataku. Maafkan aku. Kini lima tahun berlalu. Sejak kecelakaan hari itu, aku selalu di hantui rasa penyesalan. Malam itu hujan deras. Kamu sempat mengatakan untuk berteduh sejenak. Tapi aku… dengan sombongnya memaksa untuk melaju lebih kencang motor itu. Akhirnya, motor yang aku kendarai denganmu tergelincir dan menabrak sebuah mobil pick-up. Aku terpelanting agak jauh, sedangkan dirimu terjepit di sela-sela mobil pick-up. Mendapati dirimu yang telah tiada, aku menjerit, aku menangis. Aku menyalahkan diriku sendiri. Maafkan aku yang tidak mendengar ucapanmu.

Kini, pada tempat peristirahatan terakhirmu. Ada rasa sayang yang tak pernah terucap, hanya ada nisan yang terkecup.

Cinta tak selalu bahagia, cinta tak selalu tentang kesedihan dan yang lainnya. Melainkan “rindu” yang menjadi dasar cinta. Dan, ya, aku rindu, kasih.

Komentar